Minggu, 17 Oktober 2010

APAPUN YANG KAMU PERBUAT PERBUATLAH UNTUK TUHAN

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kamu tahu bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.   Kol 3: 23 – 24*)
1.  Jemaat yang pertama menerima dan membaca nasehat dan imbauan rasul Paulus ini, yaitu jemaat Kolose, adalah jemaat yang kebanyakan terdiri dari budak dan bekas budak. Jemaat ini hidup di tengah masyarakat yang sangat kuat membedakan dan memisahkan orang-orang merdeka dari para budak. Namun di dalam jemaat Kolose, kedua golongan masyarakat ini dapat hidup bersama. Bahkan dicatat rasul Paulus, bahwa iman mereka terhadap Kristus, kasih mereka terhadap semua orang kudus dan pengharapan mereka telah terdengar di luar Kolose sendiri (1: 4.5a).
2. Hal ini mungkin, karena mereka telah menerima Kristus dan telah dibaptiskan.  Dan dalam baptisan itu – dikuburkan dengan Kristus dan turut dibangkitkan dalam Dia,  2: 12 – batal dan lenyaplah perbedaan-perbedaan dan diskriminasi karena kelahiran dan nasionalitas, perbedaan seremonial dan ritual, peradaban atau “kebiadaban”,  dan perbedaan sosial: “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu” (3: 11). Perubahan ini bukanlah sesuatu kejadian seketika yang langsung selesai, melainkan merupakan proses yang harus terus dihayati dan dikembangkan: “kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru  yang terus-menerus diperbaharui” ( 3: 9b 10 a). Dengan baptisan, perbedaan warisan atau perbedaan buatan-manusia yang lain juga dinyatakan tidak berlaku lagi.  Dan kesetaraan kemanusiaan ini perlu dipelihara, dipraktekkan dan terus dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan yang baru inilah mereka disapa oleh rasul Paulus.
3.  Sebelum nas ini, dalam ay 22 rasul Paulus menasehati para budak, agar mereka mentaati  tuan mereka dalam segala hal, “jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”  Sesudah nas ini, dalam 4:1 rasul Paulus mengimbau para tuan, agar mereka berlaku adil dan jujur terhadap para budak, serta mengingatkan mereka bahwa masih ada tuan di atas mereka di sorga. Oleh sebab itu, ay 24b  Kristus adalah tuan dan kamu adalah hamba-Nya” berlaku bagi kedua belah pihak, baik kepada para budak mau pun kepada tuan-tuan. Kesetaraan hamba dan tuan ini dalam jemaat sangat penting dan menentukan, mengingat pada waktu itu hamba tidak dipandang sebagai manusia dalam hukum kuno, melainkan hanya sebagai mahkluk yang dapat diperlakukan tuannya secara sewenang-wenang.
4.  Ada tiga hal yang disampaikan ay 23: (a) Dengan kata-kata “Apa pun juga yang kamu perbuat”, agaknya rasul Paulus menempatkan tekanan bukan kepada kedudukan atau status sosial, bukan pula pada sifat pekerjaan, melainkan pada orang yang melakukan perbuatan itu dan kepada perbuatan itu sendiri. Hal ini membuktikan lagi mengenai kesetaraan yang telah diterima dalam baptisan. Dengan kata apa pun segala perbedaan kegiatan, tugas dan pekerjaan sudah tidak memegang peranan prinsipial lagi. (b)perbuatlah dengan segenap hatimu”.  Apakah seseorang melakukan tugas-budak atau tugas-tuan tidak lagi menetukan, melainkan yang menentukan adalah apakah orang itu berbuat dengan segenap hati atau tidak. Istilah “dengan segenap hati” berarti bersungguh-sungguh, tanpa pamrih atau pretensi. Dalam kitab Ulangan ungkapan ini dipakai 8 kali untuk mengasihi TUHAN, beribadah kepada-Nya, mentaati hukum-hukumnya, berbalik kepada TUHAN (bertobat). Dan Yesus juga mengutip Ul 6: 5 untuk menjawab pertanyaan seorang Farisi tentang hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat (Mat 22: 34 – 40). Jadi berbuat dengan segenap hati hanya ditujukan kepada Tuhan. Itu sebabnya dikatakan, (c)seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.  Ini adalah ajakan yang benar-benar untuk bersungguh-sungguh, yang menuntut keikhlasan tanpa bandingan. Sebelumnya dalam ay 17 rasul Paulus telah mengajak mereka “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” Ini berarti dengan kuasa Tuhan Yesus dan dalam ucapan syukur dan sukacita, bukan paksa.
5.  Ayat 24 menyatakan sesuatu yang sama sekali baru. Pada zaman itu, seorang budak sama sekali tidak berhak untuk menerima gaji atau upah. Apalagi sama sekali tidak pernah memikirkan menerima warisan dari tuannya! Hukum Romawi tidak mengenal warisan untuk budak. Sekarang dikatakan, mereka diajak berbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, dan mengetahui bahwa dari Tuhan mereka akan menerima warisan sebagai hadiah. Itu yang dimaksud dengan “menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.” Pengetahuan mengenai apa yang pasti mereka dapat harapkan, pasti merubah pandangan dan sikap mereka terhadap pekerjaan mereka.
6.  Dari kedua ayat ini kita memperoleh beberapa hal penting, yang belakangan dikembangkan menjadi pemahaman Kristen mengenai pekerjaan atau karya.
7.  Pertama: Pada mulanya, orang-orang Kristen tidak dianjurkan untuk menyesuaikan diri dengan kerangka dan orde (sistem dan susunan) masyarakat sekitarnya. Juga tidak dianjurkan untuk berusaha merubahnya. Melainkan di tengah masyarakat waktu itu, mereka diharapkan menjalankan hidup yang berakar pada orde yang sama sekali berbeda, yaitu “orde Kristus.” Para budak tidak dianjurkan memakai kebebasan mereka untuk memberontak, melainkan menguasai diri mereka memegang teguh bahwa loyalitas mereka yang utama adalah kepada Kristus. Mereka bekerja untuk menyenangkan hati Kristus. Mereka tabah dan terhibur, karena berpengharapan akan menerima warisan dari Tuhan.
8.  Belakangan kita mengamati dua perkembangan baru: yang satu adalah kecenderungan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan (bdn Rom 12: 2a “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”). Cobaan dan kecenderungan ini selalu dihadapi orang Kristen pada setiap zaman, termasuk masa kini. Yang satu lagi adalah berusaha menghayati kebebasan yang diterima dari Kristus: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal 5: 1.13b). Agaknya di jemaat Galatia juga ada banyak budak (hampir sama dengan di jemaat Kolose, bdn Gal 3: 28 “…Dalam hal ini tidak ada…budak atau orang merdeka…”). Bahwa perbudakan universal secara resmi baru dihapus berabad-abad kemudian, tidak menyangkal kenyataan bahwa penghayatan kebebasan dari perbudakan itu sudah dimulai dalam kehidupan jemaat-jemaat pertama. Memang harus dicatat, bahwa pada setiap zaman selalu timbul dalam masyarakat usaha perbudakan gaya-baru, termasuk di zaman ini.  
9.  Kedua: Bekerja “seperti untuk Tuhan” berarti bekerja seperti milik Yesus Kristus sendiri. Ini berarti bahwa orang Kristen bekerja bukan pertama-tama untuk gaji atau upah, ambisi atau memuaskan majikan. Melainkan dia bekerja, agar pekerjaannya itu dapat dipersembahkan kepada Tuhan, yang memperhatikan dan memperdulikan kebutuhan hidup sesama umat manusia, agar kehidupan dunia ini dan umat manusia dapat berlangsung dan berkesinambungan.
10.  Pemahaman pekerjaan juga berubah dengan perubahan zaman. Bila dalam masyarakat kita sekarang secara resmi tidak diizinkan lagi perbudakan, pemahaman pekerjaan atau karya juga mengalami pergeseran. Bila masyarakat kita secara teoretis adalah masyarakat egaliter, dalam arti semua manusia dalam masyarakat itu sederajat, maka tujuan pekerjaan tidak lagi diarahkan kepada tuan, melainkan kepada kepentingan bersama. Memang masih ada “pemilik” atau “pemberi kerja” dan ada “pencari” atau “penerima kerja”. Demikian juga bertambahnya corak dan bentuk pekerjaan akibat kemajuan yang dibawa perkembangan ilmu dan teknologi. Tetapi hubungan mereka tidak lagi seperti hubungan tuan-budak di zaman dahulu. Memang pengaruh lama masih terus terasa di mana-mana, bahkan perbudakan gaya-baru dapat kita lihat dalam perlakuan terhadap banyak “pembantu rumah-tangga,” yang harus siap melayani 24 jam! Tetapi lambat laun makin disadari secara luas, bahwa setiap pekerjaan itu bukan hanya bagi pemberi kerja atau penerima kerja saja, melainkan untuk kepentingan yang lebih luas!
11.  Pemahaman mengenai kepemilikan juga berada dalam terang Injil. Bila kita mengenal “pemilikan swasta dan pribadi” dan “pemilikan Negara atau pemerintah”, dalam terang Firman Tuhan semua pemilik harta, kuasa dan perusahaan, demikian juga pemerintah atau penguasa sebenarnya adalah hanya pemelihara, penatalayan, atau pelayan yang harus memberikan pertangggung-jawaban kepada Tuhan. Rasul Paulus mengatakan, dilihat dari “orde Kristus” maka “…segala sesuatu adalah milikmu…Semuanya kamu punya…Tetapi kau adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1 Kor 3: 21b. 22b. 23).
12.  Ketiga: Dari sejak zaman Perjanjian Lama upah atau gaji telah dikenal. Selain dari pekerja tetap, sudah dikenal juga pekerja harian, yang menerima upahnya pada akhir setiap hari. Hukum Israel menetapkan hal itu. Imamat 19: 13b dengan tegas mengingatkan: “janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya”. Ul 24: 15 “Pada hari itu juga haruslah engkau membayar upahnya (pekerja harian) sebelum matahari terbenam; ia mengharapkannya, karena ia orang miskin; supaya ia jangan berseru kepada TUHAN mengenai engkau dan hal itu menjadi dosa bagimu”.  Pada zaman Yesus juga dikenal pekerja-upahan harian seperti tercermin dalam perumpamaan  dalam Mat 20: 1 – 16. Dan menurut ahli sejarah Yosephus, pada zaman itu memang sangat banyak pengangguran.
13.  Beberapa catatan mengenai perumpamaan dalam Mat 20: 1 –16. Setiap perumpamaan mempunyai maksud asli yang ingin disampaikan, biasa disebut Pointe. Umumnya setiap perumpamaan itu mempunyai satu atau dua puncaknya. Perumpamaan ini mempunyai dua puncak, dan biasanya puncak kedualah yang memperoleh tekanan. Ay 1 – 8 mengenai tuan rumah yang menjewa pekerja harian dalam waktu yang berbeda-beda, dan pada malam hari itu memberikan petunjuk kepada mandurnya, yang menunjukkan kemurahan hatinya, untuk membayar upah-harian penuh kepada semua orang, dengan jumlah yang sama, tanpa kecuali. Ini adalah kejutan kepada pekerja yang bekerja hanya satu jam, tetapi menerima upah-harian penuh. Satu dinar adalah jumlah uang, cukup untuk menutupi biaya hidup sekeluarga satu hari. Dan jumlah ini jugalah yang disepakati dengan pekerja-harian yang datang pagi-pagi benar.
14.  Ay 9 -15 Pembayaran upah pada malam hari itu menjadi kekecewaan besar bagi para pekerja yang pertama. Dibanding dengan yang datang pukul 5 sore, mereka bekerja 12 jam dan di bawah panas terik matahari. Sedang yang terakhir bekerja hanya satu jam di bawah kesejukan sore hari.  Kemarahan, kedongkolan dan protes dari mereka yang merasa dirugikan, dijawab  dengan mengingatkan, bahwa tidak ada pelanggaran keadilan, sebab upah yang disepakati adalah satu dinar. Di atas itu, yang mau disampaikan perumpamaan ini adalah kemurahan hati tuan rumah yang memperdulikan kebutuhan orang miskin, sebab upah satu jam tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan satu hari. Ini bukan penghamburan tanpa batas, tetapi semua pekerja menerima suatu jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi. Dengan kata lain, tuan rumah itu memberikan upah minimum yang dibutuhkan tiap hari. Jadi perumpamaan ini tidak menggambarkan perbuatan sewenang-wenang, melainkan perbuatan baik dari seorang yang berpikir baik, ramah, peduli dan sangat simpati dengan orang miskin. Demikianlah Allah bertindak ramah, kata Yesus, dengan memberikan bagian kerajaan-Nya kepada para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, tanpa mereka sebenarnya mempunyai hak (undeserved). Begitu besar kasih Allah! Dalam perumpamaan ini Yesus menjawab para pengkritik di zaman-Nya. Karena Allah begitu baik dan ramah, Yesus juga! “Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”
15.  Saya menjelaskan sedikit tentang perumpamaan ini, sebab yang utama disampaikan di sini bukanlah agar upah semua orang sama dalam pekerjaan sehari-hari. Pada waktu yang sama kita sadari, bahwa bisa saja terjadi ketidak-adilan pada waktu mengadakan kontrak-kerja dan kelanjutannya. Dan ketidak-adilan yang paling mencolok masa kini adalah tidak wajarnya seseorang digaji, dan kurangnya gaji bisa mendorong seseorang melakukan korupsi.
16.  Selanjutnya dalam merenungkan mengenai penggajian, ada baiknya kita menyegarkan ingatan kita tentang beberapa hal lain lagi, yang mendasar sesuai iman kita. Pertama: Pada dasarnya, Allah-lah yang memberikan makan manusia, dan memberinya cukup untuk tiap hari. Itulah yang disampaikan cerita Manna dalam Kel 16. “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa” (ay 15.d-16). Segomer sama dengan kurang sedikit dari dua liter, suatu jumlah yang dapat mengenyangkan seseorang sekenyang-kenyangnya setiap hari. Pemikiran cukup ini menolak pemikiran kekurangan atau berkelebihan (ay 18 “…orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan”).
17.  Dalam situasi yang sudah berubah dan makin maju, maka pemahaman “segomer”, sebagai ukuran minimal untuk dapat bertahan hidup tiap hari, dapat diartikan selain makanan sehari-hari, juga mencakup pemondokan, pendidikan dan jaminan hari tua (bdn ay 23). Berlaku juga peringatan agar jangan berlebihan, supaya jangan “berulat dan berbau busuk” ay 20b. 24b, atau dalam istilah modern, polusi. Dan di tengah keadaan yang berkekurangan, Tuhan dengan perantaraan para nabinya memperingatkan bahwa akibat ketidak-adilan adalah kemiskinan. Oleh sebab itu, cara utama mengatasi kemiskinan adalah mengatasi ketidak-adilan, atau positif dikatakan: mengusahakan pemerataan (equilibrium bdn 2 Kor 8: 13 -15). Cara Allah memberikan makanan kepada manusia tidak sama, dan penyaluran makanan ini juga beraneka. Yang jelas, pemikiran cukup ini jugalah yang melatar-belakangi ungkapan dalam Doa Bapa Kami, yang diajarkan Tuhan Yesus: “Bapa kami yang di sorga,…Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya.
18.  Kedua: Dalam perumpamaan Yesus Mat 25: 14 – 30, disebut mengenai seorang tuan yang mau bepergian ke luar negeri, memberikan talenta kepada tiga orang hambanya “masing-masing menurut kesanggupannya.  Menurut rasul Paulus, “Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakinya” (1 Kor 12: 11). Dalam memilih pekerjaan, ada baiknya setiap orang yang percaya menyadari talenta atau/dan karunia (kharisma) yang ada padanya, sedini mungkin. Memelihara dan mengembangkan talenta dan/atau kharisma ini sangat penting, terutama selama masa pendidikan formal dan seterusnya dalam pendidikan informal lanjutan, sebagai usaha juga memahami “saluran” yang dipakai Tuhan untuk memberikan “makanan setiap hari” kepada setiap orang. Keahlian dan ketrampilan hanya dapat diraih dan dikembangkan dalam kerangka acuan talenta dan/atau karunia itu. Acap salah pilih jurusan pendidikan dan salah pilih pekerjaan adalah penyebab “kekurangan penghasilan.”
19.  Ketiga: Kemajuan pendidikan telah membawa kesadaran mengenai keluarga yang bertanggung-jawab. Artinya, setiap suami-isteri harus menyadari bahwa melahirkan anak ke dunia ini membawa tanggung-jawab untuk menyediakan yang perlu bagi anak itu. Dengan kata lain, Allah bagi anak menyalurkan makanan sehari-hari kepadanya melalui bapa-ibunya. Oleh sebab itu, nilai budaya kuno tentang anak sudah berubah: anak tidak boleh dilihat hanya sebagai aset dan kebanggaan dari orangtua, melainkan pertama-tama sebagai tanggung-jawab, yaitu menyediakan makanan dan pendidikan, sampai anak itu mandiri. Pengaturan Keluarga Bertanggung-jawab masa kini perlu dilakukan dalam takut akan Tuhan, dan jangan juga melulu berdasarkan pertimbangan ekonomis.
20.  Keempat: Dari sejak awal, manusia diharapkan bekerja dengan bersungguh-sungguh (acap dikatakan “bekerja keras”, bukan sebagai kutuk “dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu” Kej 3: 17d), bahkan disarankan belajar dari semut terutama mengenai keteraturan atau displin, dan kegigihan dan kerjasama (bdn Ams 6: 6dst). Tetapi yang terpenting dari semua sifat-sifat yang diperlukan untuk dapat bekerja dengan baik adalah kepercayaan – trust . Kepercayaan yang dimaksud selalu didampingi pekerjaan yang baik, dan bukan tanpa kegiatan. Hal ini paling jelas kita lihat dalam perumpamaan Mat 25 tadi: kedua hamba yang menerima lima dan dan dua taenta itu, disebut  hamba yang baik dan setia”(ay 21.23). Baik – artinya melaksanakan tugasnya dengan bersungguh-sungguh sehingga membawa hasil yang besar; setia – artinya karena dapat dipercayai “segera pergi”, “menjalankan uang itu” dan menyerahkan seluruhnya, modal dan hasil, kepada yang memberikannya kepadanya. Sedang yang menerima satu talenta itu disebut “jahat dan malas” (ay 26), sekalipun dia mengembalikan talenta yang satu itu kepada tuannya. Jahat – karena ganti bekerja, dia “menghukumi” tuannya itu; malas – karena  ganti menjalankan uang itu, dia ambil jalan tergampang, yaitu menyembunyikan dalam tanah. Terutama di zaman ini, trust memegang peranan yang sangat menetukan.
21.  Terakhir: “memperbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan” juga membuka kemungkinan untuk bersikap kritis  terhadap sistem dan aturan yang ada. Kritis  dalam arti menempatkan sistem dan aturan itu di bawah terang Firman Tuhan, dengan selalu menanyakan apakah sistem itu mencerminkan keadilan dan pemerataan, dan apakah aturan-aturan itu membantu kehidupan semua untuk berkecukupan. Merubah dan membarui sistem dan aturan yang tidak adil, termasuk tugas tanggung-jawab orang yang percaya.
22.  Semoga dengan memahami pekerjaan dan penggajian secara baru, kita dapat menghadapi tantangan-tantangan berat yang dibawa zaman globalisasi ini, diperlengkapi kuat-kuasa Roh Kudus, sebagaimana dijanjikan Yesus Kristus.


*) Uraian yang disampaikan sebagai “khotbah Interaktif” pada Kebaktian Karyawan Bank     Indonesia tgl 13 Agustus 2010 di Ruang Bioskop BI Jl Thamrin, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar